Sabtu, 29 September 2012

Cara Menikmati Kopi

Apa pilihan tempat nongkrong yang asyik? Jawabannya tentu saja bisa beragam. Tapi cukup banyak yang memilih tempat ngopi. Salahsatu yang memilih tempat ngopi adalah Dian Suteja. Bersama rekan-rekannya di Bandung, dia kerap berkumpul di kedai kopi.

Ternyata Dian dan rekan-rekannya lebih memilih kedai kopi bukan hanya untuk sekadar menikmati kopi. Lebih jauh dari itu, mereka juga mahir dalam menebak asal kopi hanya dari aromanya saja. Ternyata tebak-tebak asala usul kopi dari aromanya itu, yang dikenal dengan nama Cupping Coffee itu telah jadi hobi baru sebagian orang. 
Beberapa waktu lalu, Kopi-Q di Jalan Pasirkaliki Bandung jadi ajang uji citarasa kopi itu. Tapi Dian yang merupakan dosen filsafat itu lebih suka menyebut hobinya dengan sebutan Icip-Icip Kopi. “Sengaja kami memilih penggunaan kata ‘Icip Kopi’ ketimbang menggunakan cupping coffee,” katanya.

Tentu saja itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, alasan pertama lantaran dia ingin melakukan kegiatan ini lebih nge-pop, bukan melulu bertujuan industri. Kedua, kegiatan cupping disini cenderung mengacu pada standard SCAA atau Specialty Coffee Association of America. Untuk soal ini, masih banyak acuan diluar SCAA, seperti Specialty Coffee Association of Europe (SCAE), Cups of Excellence (CoE), bahkan beberapa pihak seperti Sweet Maria’s dan forum maya pecinta kopi di USA coffeegeek.com, ikut membuat standar tersendiri.

Ketiga, cupping pada dasarnya adalah mengenali karakter kopi dan berbagi akan hal itu. Dan, setiap orang berhak mengenali karakter kopi di luar pakem industri. Dan keempat, cupping adalah suatu ikhtiar yang terus menerus dilatih. Itu juga berarti latihan atau proses belajar. “Idealnya cupping dilakukan lebih dari satu orang agar hasil yang didapatkan bisa dibagi satu sama lain sembari saling membandingkan hasil masing-masing para pengicipnya,” kata Dian.

Kelima, lanjutnya, kami berpendapat bahwa di luar empat dasar rasa, yaitu pahit, asam, asin, dan manis, selalu bersinggungan dengan kultur tempatan atau lokalitas dan kekayaan perbendaharaan sensasi rasa beserta kosakatanya. “Jika banyak orang mengasosiasikan kopi dengan rasa pahit dan hal itu sudah tertancap dalam di benak, meski disodorkan kopi Panama Elida Estate yang karakter kopinya jauh dari pahit. Sampai sini, rasa bukan sekadar indriawi, tapi juga kultural,” imbuhnya.

Alasan pertama yang dikemukakan Dian bahwa cupping coffee identik dengan industri bisa jadi ada benarnya. Di Caswell’s Fine Coffee and Teas, satu tempat ngopi modern yang menyajikan kopi berkualitas kelas dunia, aktifitas ini dilakukan saban hari. Operational Manager Caswell, Agustinus Tassi mengatakan ritual itu dilakukan dia dan timnya setiap pukul 09.00 WIB.

Jumat pagi pekan lalu, di Caswell yang terletak di Kemang Timur Jakarta ini, suara slurping terdengar jelas berbaur dengan dentingan sendok yang beradu dengan gelas. Di atas meja pun sudah berjajar tiga gelas kopi yang harus ditebak nama serta asal-usulnya. Masing-masing kopi seberat 8,5 hingga 10 gram kopi diseduh dengan 150 ml air dengan titik didih 92 derajat celcius. Selebaran yang mereka sebut Cupping Form pun dibagikan.

Lembaran kertas itu berisikan kolom-kolom contoh nama kopi, keharuman, aroma, keasaman, rasa, kekentalan dan rasa setela kopi diteguk. Kolom-kolom itu harus diisi sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Cuppers. Berbarengan dengan pengisian formulir, Cuppers pun harus mengecup satu persatu kopi yang disajikan.

Dalam aktivitas ini, menurut Agustinus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu kopi saat masih kering, setelah diseduh dan saat sudah dingin. “Ada beberapa jenis kopi yang aromanya masih terjaga, rasanya pun masih oke, tapi ada juga yang berubah aroma dan rasanya karena kontaminasi air. Tapi bila sudah dingin, umumnya kopi pun tak lagi dilirik untuk diseruput,” katanya.

Bagi pemula mungkin sedikit kebingungan apa yang harus mereka isi. Apa yang mereka rasakan di lidah mereka hanya pahit dan sedikit asam. Bahkan bisa jadi ada yang hanya akan berpikir semuanya sama, pahit.
“Bahkan penggemar kopi pun belum tentu bisa mengisi dengan cepat,” imbuh Agustinus.

Meskipun itu diisi sesuai dengan yang dirasakan, tapi tidak berarti asal mengisi. Tentu saja ada pengetahuan di balik kolom-kolom itu. Bila kolom-kolom itu terisi dengan lengkap, selanjutnya harus dicocokkan dengan  kunci jawaban. Nah, di penilaian ini kita bisa tahu seberapa besar kepekaan kita dalam menebak karakteristik kopi, alias Cupping.

CARA PEDAGANG KENALI KOPI
Cupping Coffee ini sebenarnya bermula dari kebiasaan para pedagang kopi  yang akan menjual kopinya ke para pembelinya. Dia harus merasakan dulu bagaimana kopi itu, mulai dari aromanya hingga apa yang dirasakan setelah meminum kopi. Hal ini dilakukan untuk menjelaskan kepada pelanggannya bagaimana karakter kopi yang dia jual. Apakah ada kopi yang terbaik? Jawabannya mungkin semua kopi baik dan enak, tapi itu hanya berlaku pada penjual, lantaran selera pembeli pun beragam.

Awalnya para penjual kopi sebelum melepas kopi  ke penjual, mereka harus mencicipi dulu kopinya.  Cupping Coffee sendiri adalah metode bagaimana mengenali berbagai jenis biji kopi yang berbeda-beda. Dengan cupping kita biasa membedakan atau membandingkan kopi satu dengan yang lain dan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kopi tersebut. Kopi itu sendiri mengandung banyak sekali unsur. Mulai dari aromanya, di dalam satu jenis kopi bisa saja mengandung aroma floral, citrus, berry-like, nutty, malt-like, chocolate-like dan lain sebagaianya tergantung lingkungannya.

Di Indonesia, sebutsaja di Bali, kopi Kintamani aroma jeruknya begitu terasa karena perkebunannya di kelilingi oleh jeruk Bali. Berbeda lagi dengan kopi yang hidup di dekat tumbuhan herbal seperti di Toraja atau Papua, kopinya beraroma bunga. Bila kita bandingkan satu kopi dengan kopi yang lain tentu saja berbeda, tidak ada kopi yang sama. “Setiap kopi memiliki komponen-komponen Coffee Tester’s Flavor wheel. Jadi tidak semua kopi memiliki aroma yang sama,” kata Agustinus.

Dalam mendeteksi apa saja atau bagaimana isi kopi tersebut, itu masalah jam terbang seorang Cupper.  Cupping Coffee sendiri hanya ada di daerah penghasil kopi seperti Amerika Latin, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Negara yang kaya akan kopi pasti memiliki komunitas atau penggemar Cupping Coffee. Di Indonesia sendiri komunitas penikmat kopi ini telah muncul sejak 2001 dan kini terus berkembang. Anggotanya pun bukan hanya dari kalangan industri kopi. “Ada yang mahasiswa, karyawan, bahkan ibu rumah tangga juga,” kata Agustinus.
Anda penikmat kopi? Kenali aroma dan asal-usul kopi yang Anda nikmati bersama anggota komunitas ini.



Sumber:
http://www.mataelang.net

Jumat, 28 September 2012

Manfaat Kopi Bagi Kesehatan

Berbicara mengenai kopi, banyak orang yang masih berpendapat bahwa kopi buruk bagi kesehatan. Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar. Kopi, asalkan dikonsumsi secara bijak, sebenarnya justru bermanfaat bagi kesehatan. Apa pun, bukan hanya kopi, bila dikonsumsi berlebihan pasti tidak baik.

Manfaat Kopi

Menurut Harvard Women’s Health, konsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2, pembentukan batu ginjal, kanker usus besar, penyakit parkinson, kerusakan fungsi hati (sirosis), penyakit jantung serta menghambat penurunan daya kognitif otak.
  • Diabetes. Dua puluh studi yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa kopi mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 50%. Para peneliti menduga penyebabnya adalah asam klorogenik di dalam kopi berperan memperlambat penyerapan gula dalam pencernaan. Asam klorogenik juga merangsang pembentukan GLP-1, zat kimia yang meningkatkan insulin (hormon yang mengatur penyerapan gula ke dalam sel-sel). Zat lain dalam kopi yaitu trigonelin (pro vitamin B3) juga diduga membantu memperlambat penyerapan glukosa.
  • Kanker. Riset secara konsisten menunjukkan bahwa kopi mengurangi risiko kanker hati, kanker payudara dan kanker usus besar.
  • Sirosis. Kopi melindungi hati dari sirosis, terutama sirosis karena kecanduan alkohol.
  • Penyakit Parkinson. Para peminum kopi memiliki risiko terkena Parkinson setengah lebih rendah dibanding mereka yang tidak minum kopi.
  • Penyakit jantung dan stroke. Konsumsi kopi tidak meningkatkan risiko jantung dan stroke.  Sebaliknya, kopi justru sedikit mengurangi risiko stoke. Sebuah studi atas lebih dari 83.000 wanita berusia lebih dari 24 tahun menunjukkan mereka yang minum dua sampai tiga cangkir kopi sehari memiliki risiko terkena stroke 19% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Studi terhadap sejumlah pria di Finlandia menunjukkan hasil yang sama.
  • Fungsi kognitif. Studi atas 4.197 wanita dan 2.820 pria di Perancis menunjukkan bahwa meminum setidaknya tiga cangkir kopi sehari dapat menghambat penurunan fungsi kognitif otak akibat penuaan hingga 33 persen pada wanita. Namun, manfaat yang sama tidak ditemukan pada pria. Hal ini mungkin karena wanita lebih peka terhadap kafein.

Efek Negatif Kopi

Namun demikian, kopi juga memiliki efek negatif. Kafein sebagai kandungan utama kopi bersifat stimulan yang mencandu. Kafein mempengaruhi sistem kardiovaskuler seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Dampak negatif itu muncul bila Anda mengkonsumsinya secara berlebihan.

Bagi kebanyakan orang, minum dua sampai tiga cangkir kopi tidak memberikan dampak negatif. Meminum kopi dengan frekuensi lebih dari itu bisa menimbulkan jantung berdebar-debar, sulit tidur, kepala pusing dan gangguan lainnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang mengkonsumsi kopi agar tidak mengantuk–misalnya karena kekurangan tidur– disarankan agar konsumsinya disebar sepanjang hari.

Riset mengenai hubungan konsumsi kopi dengan keguguran kandungan tidak memberikan kesimpulan seragam. Tetapi, untuk amannya ibu hamil disarankan tidak minum lebih dari satu cangkir kopi sehari.

Sumber:
http://majalahkesehatan.com

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kopi

A. Hama
  • Nematoda Parasit
Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis merupakan nematoda endoparasit yang berpindah‐pindah. Daur hidup P.coffeae sekitar 45 hari dan R.similis sekitar 1 bulan.

Gejala:
Tanaman kopi yang terserang kelihatan kerdil, daun menguning dan gugur. Pertumbuhan cabang‐cabang primer terhambat sehingga hanya menghasilkan sedikit bunga, bunga prematur dan banyak yang kosong. Bagian akar-akar serabut membusuk, berwarna coklat atau hitam. Pada serangan berat tanaman akhirnya mati.

Pengendalian:
Pengendalian di pembibitan: Disarankan menggunakan cara kimiawi yaitu dengan fumigasi media bibit menggunakan fumigan pra tanam, misalnya Basamid G dan Vapam L. Untuk nematisida sistemik dan kontak a.l.: Curaterr 3G, Vydate 100 AS, Rhocap 10G dan Rugby 10G.Vydate diaplikasikan dengan cara disiramkan pada bibit dengan konsentrasi 1,0% dan dengan dosis 250 ml/bibit.
Pengendalian di pertanaman: Penggunaan jenis kopi tahan nematoda parasit. Digunakan sebagai batang bawah misalnya kopi ekselsa (Coffeae exelsa), klon Bgn 121.09 dan kopi robusta klon BP 961. Cara kultur teknis: pembukaan lubang tanam, rotasi tanaman dan pembuatan parit barier.

Pengendalian hayati: Untuk menekan populasi nematoda menggunakan musuh alami berupa bakteri, jamur dan nematoda predator.
Pengendalian kimiawi: Beberapa nematisida sistemik maupun kontak yang disarankan a.l. karbofuran (Curaterr 3G–35 g / tanaman), oksamil (Vydate 100 AS 1,0% 1 – 2.5 l / tanaman) dan etoprofos (Rhocap 10G ‐ 25 g / tanaman). Aplikasi diulang tiap tiga bulan.
  • Hama Penggerek Buah Kopi
Serangga dewasa penggerek buah kopi atau bubuk buah kopi (BBK), Hypothenemus hampei (Coleoptera, Scolytidae) berwarna hitam kecoklatan, panjang yang betina sekitar 2 mm dan yang jantan 1,3 mm. Telur diletakkan dalam buah kopi yang bijinya mulai mengeras, umur stadium telur 5 – 9 hari. Lama stadium larva 10 – 26 hari, prapupa 2 hari dan stadium pupa 4 – 9 hari. Masa perkembangan dari telur sampai dewasa 25 – 35 hari. Lama hidup serangga betina rata‐rata 156 hari dan serangga jantan maksimum 103 hari.

Gejala:
Serangga BBK masuk ke dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah, serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang‐lubang dan bermutu rendah.

Pengendalian:
Pengendalian secara kultur teknis: Memutus daur hidup BBK, meliputi tindakan : Petik bubuk, yaitu mengawali panen dengan memetik semua buak masak yang terserang bubuk 15 –30 hari menjelang panen besar.
Lelesan, yaitu pemungutan buah kopi yang jatuh di tanah baik terhadap buah terserang maupun buah tidak terserang, selanjutnya buah juga direndam dalam air panas. Racutan/rampasan, yaitu memetik seluruh buah yang ada di pohon pada akhir panen. Semua buah hasil petik bubuk, lelesan dan racutan direndam air panas 5 menit. Pengaturan naungan untuk menghindari kondisi pertanaman terlalu gelap yang sesuai bagi perkembangan BBK.

Pengendalian secara biologi: Menggunakan parasitoid Cephalonomia stephanoderis dan jamur patogen (Beauveria bassiana). Aplikasi B.bassiana dianjurkan dengan dosis 2,5 kg biakan padat per hektar selama tiga kali aplikasi per musim panen. Penggunaan tanaman yang masak serentak : Varietas USDA 230731 dan USDA 230762.

B. Penyakit Tanaman Kopi
  • Penyakit Karat Daun pada Tanaman Kopi
Penyakit karat daun yang disebabkan oleh patogen Hemileia vastatrix B. et. Br. merupakan penyakit utama pada tanaman kopi arabika.

Tanaman sakit ditandai oleh adanya bercak‐bercak berwarna kuning muda pada sisi bawah daunnya, kemudian berubah menjadi kuning tua. Di bagian ini terbentuk tepung berwarna jingga cerah (oranye) dan tepung ini adalah uredospora jamur H. vastatrix. Bercak yang sudah tua berwarna coklat tua sampai hitam, dan kering. Daun‐daun yang terserang parah kemudian gugur dan tanaman menjadi gundul. Tanaman yang demikian menjadi kehabisan cadangan pati dalam akar‐akar dan rantingrantingnya, akhirnya tanaman mati.

Dalam pembiakan dan penyebarannya, H vastatrix menggunakan uredospora yang mula‐mula berbentuk bulat, kemudian berubah menjadi memanjang dan bentuknya mirip dengan juring buah jeruk. Uredospora yang telah masak berwarna jingga, pada sisi luarnya dibagian yang cembung mempunyai duri‐duri. Penyebaran oredospora dari pohon ke pohon terjadi karena benturan bantuan percikan air menyebabkan uredospora sampai pada sisi bawah daun. Infeksi jamur terjadi lewat mulut‐mulut daun yang terdapat pada sisis bawah daun. Dalam proses infeksinya uredospora mula‐mula membentuk buluh kecambah, kemudian membentuk apresorium di depan mulut kulit, selanjutnya jamur mengadakan penetrasi kedalam jaringan jamur. Disamping bantuan air, beberapa agensia lain yang berpotensi membantu menyebarkan uredospora adalah angin, spesies trips tertentu, burung dan manusia.

Pada kopi robusta, penyakit ini tidak menjadi masalah, sedangkan pada kopi arabika penyakit ini menjadi masalah utama. Cara pengendalian penyakit sementara ini dilakukan dengan dua cara, yaitu menanam jenis‐jenis kopi arabika yang tahan sepertio S 333, S 288 dan S 795, dan pengendalian dengan Fungisida Dithane M‐45 dengan dosis 2 gr/liter air.
  • Penyakit Bercak Daun Cercospora
Penyebab penyakit ini adalah jamur Cercospora coffeicola B.et Cke. C.coffeicola mempunyai konidium berbentuk gada, ukurannya ada yang pendek dan ada juga yang panjang. Konidia dibentuk pada permukaan bercak, berbentuk seperti tepung berwarna abu‐abu.

Gejala:
Serangan dapat terjadi pada daun maupun pada buah. Pada daun yang sakit timbul bercak, mula‐mula berwarna kuning tapi bercak dikelilingi halo berwarna kuning. Pada buah yang terserang timbul bercak berwarna coklat, biasanya pada sisi yang lebih banyak menerima cahaya matahari. Pembusukan pada bagian yang berbercak dapat sampai ke biji sehingga dapat menurunkan kualitas.

Pengendalian:
Secara kultur teknis, dengan memberi naungan yang cukup, pemupukan berimbang dan pengurangan kelembaban kebun melalui pemangkasan dan pengendalian gulma. Secara kimiawi, melalui penyemprotan dengan Bavistin 50 WP 0,2%, Cupravit OB 21 0,35%, Dithane M 45 80 WP 0,2%, Delsene MX 200 0,2% formulasi.
  • Penyakit Jamur Upas
Penyakit jamur upas disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor B.et Br. C. salmonicolor mempunyai basidium yang tersusun paralel pada stadium kortisium. Basidium berbentuk gada pada ujungnya terbentuk empat sterigmata yang mendukung basidiospora.

Gejala:
Cabang atau ranting yang terserang layu mendadak. Serangan dapat terjadi pada cabang yang di bawah, tengah maupun di ujung pohon, bahkan dapat terjadi pada batang. Stadium sarang laba‐laba, berupa lapisan hifa tipis, berbentuk seperti jala berwarna putih perak. Stadium bongkol berupa gambaran hifa berwarna putih biasanya dibentuk pada lentisel atau pada celah‐celah. Stadium kortisium berupa lapisan kerak berwarna merah jambu, terdiri atas lapisan himenium, biasanya dibentuk pada sisi bawah cabang atau sisi cabang yang agak ternaung. Stadium nekator berupa bintil‐bintil kecil berwarna orange kemerahan merupakan sporodokhia jamur upas. Stadium nekator terdapat pada cabang yang tidak terlindung.

Pengendalian:
Batang atau cabang sakit yang ukurannya masih kecil (diameter < 1 cm) dipotong 10 cm di bawah pangkal di bagian yang sakit. Potongan‐potongan batang dan cabang yang sakit dikumpulkan kemudian dibakar. Batang atau cabang sakit yang ukurannya sudah cukup besar, apabila serangannya masih awal, bagian yang sakit cukup diolesi dengan fungisida Calixin RM atau Copper Sandoz 0,4% formulasi. Apabila serangannya sudah lanjut, batang atau cabang yang sakit dipotong, sisa cabang atau batang yang dipotong dan cabang‐cabang di sekitarnya diolesi dengan fungisida Calixin RM atau Copper Sandoz. 
 
 
Sumber:
http://www.rumahkopi.com

Rabu, 26 September 2012

Cara budidaya kopi

Dalam memilih penanaman bibit kopi ada tiga kriteria yang perlu diperhatikan antara lain;
Produktivitas
Kualitas (aroma dan rasa amat berpengaruh terutama pada jenis Arabika)
Ketahanan terhadap gangguan hama/penyakit

Mengenai budidaya kopi Arabika dan Robusta dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:
*Kopi Arabika
Untuk keperluan budidaya kopi Arabika biasanya dilakukan dengan cara membuat bibit generatif (bibit semai), dan kopi Arabika tidak memerlukan cara vegetatif, kecuali untuk kebutuhan penelitian.
*Kopi Robusta
Sedangkan kopi robusta budidayanya biasa dilakukan secara dengan cara mengembangkan bibit vegetatif yaitu bibit cangkokan, sambungan, okulasi dan stek. Bibit yang diperoleh dari pihak lain, sebaiknya tidak langsung ditanam agar bibit tersebut dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
*Kopi Luwak
nyari luwak nya dulu

-Pemupukan
Pupuk yang digunakan pada umumnya harus mengandung unsur-unsur Nitrogen, Phospat dan Kalium dalam jumlah yang cukup banyak dan unsur-unsur mikro lainnya yang diberikan dalam jumlah kecil. Ketiga jenis tersebut di pasaran dijual sebagai pupuk Urea atau Za (Sumber N), Triple Super Phospat (TSP) dan KCl. Selain penggunaan pupuk tunggal, di pasaran juga tersedia penggunaan pupuk majemuk. Pupuk tersebut berbentuk tablet atau briket di dalamnya, selain mengandung unsur NPK, juga unsur-unsur mikro. Selain pupuk an organik tersebut, tanaman kopi sebaiknya juga dipupuk dengan pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos.

Pemberian pupuk buatan dilakukan 2 kali per tahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan, dengan meletakkan pupuk tersebut di dalam tanah (sekitar 10 - 20 cm dari permukaan tanah) dan disebarkan di sekeliling tanaman. Adapun pemberian pupuk kandang hanya dilakukan Tahun 0 (penanaman pertama) 
 
 
Sumber:
http://tipspetani.blogspot.com

Minggu, 09 September 2012

Warung Kopi di Jember Memang Beda

Jadi ceritanya, saya sedang belajar menulis tentang kuliner, travel dan sejarah gedung-gedung tua. Dan yang menjadi laboratorium tempat saya menjaring ide adalah kota kecil Jember. Alhasil, tiga hari ini saya berkeliling Jember dan berharap  menemukan banyak hal yang bisa saya jadikan bahan untuk belajar menulis.

Sama seperti para pejalan yang lain, saya juga akrab dengan yang namanya warung kopi. Itu adalah tempat yang bersahabat untuk melepaskan penat dan mengembalikan energi yang hilang. Dan tiga hari ini, ada banyak warung yang saya singgahi. Nah, dari sinilah cerita menjadi menarik.

Untuk urusan kopi, Jember memang tidak sehebat kota-kota lain yang memiliki jenis kopi khas dan cara penyajian yang unik. Namun begitu, warung-warung kopi di sini mudah sekali mengadaptasi  semua itu, tergantung permintaan pelanggan. Ya, Jember memang hebat dalam hal adaptasi. Bisa dikatakan, Jember adalah Amerika serikat dalam skala kecil. Tempat bercampurnya segala budaya (terutama dari dua kebudayaan besar, Jawa dan Madura) dan membola salju menjadi sebentuk kebudayaan dengan polesan baru. Maklumlah, Jember memang bukan kota yang berdiri di atas reruntuhan kerajaan besar.

Kembali tentang warung kopi di Jember..
Ada yang unik dengan suasana warung kopi di Jember. Dan saya rasa, ini sulit ditemui di warung kopi di kota-kota lain. Yang saya maksud tidak lain adalah mengenai perpindahan bahasa. Sekali waktu menggunakan bahasa Indonesia, kemudian pindah dengan menggunakan bahasa lokal. Kadang bahasa Jawa kadang bahasa Madura. Dan saat melakukannya, mereka tidak perlu berpikir lebih untuk merangkai kata. Semuanya sudah teranalisis otak kiri dan telah terimajinerkan otak kanan.

Suasana yang akrab dengan gaya komunikasi yang unik, itulah andalan warung kopi di Jember. Keunikan ini pernah saya rasakan ketika sedang ngopi di kantin di dalam kampus Universitas Jember bersama seorang mahasiswa asal Thailand. Kacau, segala bahasa bercampur baur. Anehnya, lha kok nyambung.

Saya memang pernah menulis tentang Jember dan Bahasa Planetnya. Di sana saya ceritakan juga kenapa bahasa orang Jember bisa seunik sekarang ini. Kali ini, saya tuliskan lagi dengan lebih sederhana, mengambil sudut pandang dari suasana di warung kopi.Tentang gaya berkomunikasi masyarakatnya, dan pilihan kata yang khas.

Bila anda sedang nyruput kopi di sini dan sedang beruntung, anda akan mendapatkan suasana obrolan hangat dan menemui kata kata yang bukan Jawa bukan pula Madura.
Contoh kata-kata yang bukan Jawa dan bukan Madura :
Kalau orang jawa menyebut cangkul dengan pacul, maduranya landuk. Kalau di Jember namanya pacol.
Di bahasa jawa, bambu dikenal dengan nama preng, maduranya perreng, dan bahasa Njembernya adalah eppreng.
Orang Madura mengenal ayam dengan kata ajem. Bahasa jawanya pethek (e dibaca seperti membaca reggae). Orang Jember menyebut ayam dengan Pethek (e dibaca seperti membaca pesek).
Di atas adalah kata kata hasil akulturasi budaya. Ada juga kata-kata baru, yang lahir dari asimilasi budaya. Ciri-cirinya, kata mengandung pengulangan dan tersebar juga di daerah pandhalungan (sekitar Jember).
Sebentar lagi BBJ / Bulan Berkunjung Jember akan segera digelar. Bagi anda yang berencana untuk berkunjung kemari, sempatkan juga untuk nongkrong di warung kopi kelas rakyat.  Anda hanya butuh sedikit konsentrasi, pasang telinga, kemudian rasakan sensasinya.

Sumber:
Kompasiana