Sabtu, 29 September 2012

Cara Menikmati Kopi

Apa pilihan tempat nongkrong yang asyik? Jawabannya tentu saja bisa beragam. Tapi cukup banyak yang memilih tempat ngopi. Salahsatu yang memilih tempat ngopi adalah Dian Suteja. Bersama rekan-rekannya di Bandung, dia kerap berkumpul di kedai kopi.

Ternyata Dian dan rekan-rekannya lebih memilih kedai kopi bukan hanya untuk sekadar menikmati kopi. Lebih jauh dari itu, mereka juga mahir dalam menebak asal kopi hanya dari aromanya saja. Ternyata tebak-tebak asala usul kopi dari aromanya itu, yang dikenal dengan nama Cupping Coffee itu telah jadi hobi baru sebagian orang. 
Beberapa waktu lalu, Kopi-Q di Jalan Pasirkaliki Bandung jadi ajang uji citarasa kopi itu. Tapi Dian yang merupakan dosen filsafat itu lebih suka menyebut hobinya dengan sebutan Icip-Icip Kopi. “Sengaja kami memilih penggunaan kata ‘Icip Kopi’ ketimbang menggunakan cupping coffee,” katanya.

Tentu saja itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, alasan pertama lantaran dia ingin melakukan kegiatan ini lebih nge-pop, bukan melulu bertujuan industri. Kedua, kegiatan cupping disini cenderung mengacu pada standard SCAA atau Specialty Coffee Association of America. Untuk soal ini, masih banyak acuan diluar SCAA, seperti Specialty Coffee Association of Europe (SCAE), Cups of Excellence (CoE), bahkan beberapa pihak seperti Sweet Maria’s dan forum maya pecinta kopi di USA coffeegeek.com, ikut membuat standar tersendiri.

Ketiga, cupping pada dasarnya adalah mengenali karakter kopi dan berbagi akan hal itu. Dan, setiap orang berhak mengenali karakter kopi di luar pakem industri. Dan keempat, cupping adalah suatu ikhtiar yang terus menerus dilatih. Itu juga berarti latihan atau proses belajar. “Idealnya cupping dilakukan lebih dari satu orang agar hasil yang didapatkan bisa dibagi satu sama lain sembari saling membandingkan hasil masing-masing para pengicipnya,” kata Dian.

Kelima, lanjutnya, kami berpendapat bahwa di luar empat dasar rasa, yaitu pahit, asam, asin, dan manis, selalu bersinggungan dengan kultur tempatan atau lokalitas dan kekayaan perbendaharaan sensasi rasa beserta kosakatanya. “Jika banyak orang mengasosiasikan kopi dengan rasa pahit dan hal itu sudah tertancap dalam di benak, meski disodorkan kopi Panama Elida Estate yang karakter kopinya jauh dari pahit. Sampai sini, rasa bukan sekadar indriawi, tapi juga kultural,” imbuhnya.

Alasan pertama yang dikemukakan Dian bahwa cupping coffee identik dengan industri bisa jadi ada benarnya. Di Caswell’s Fine Coffee and Teas, satu tempat ngopi modern yang menyajikan kopi berkualitas kelas dunia, aktifitas ini dilakukan saban hari. Operational Manager Caswell, Agustinus Tassi mengatakan ritual itu dilakukan dia dan timnya setiap pukul 09.00 WIB.

Jumat pagi pekan lalu, di Caswell yang terletak di Kemang Timur Jakarta ini, suara slurping terdengar jelas berbaur dengan dentingan sendok yang beradu dengan gelas. Di atas meja pun sudah berjajar tiga gelas kopi yang harus ditebak nama serta asal-usulnya. Masing-masing kopi seberat 8,5 hingga 10 gram kopi diseduh dengan 150 ml air dengan titik didih 92 derajat celcius. Selebaran yang mereka sebut Cupping Form pun dibagikan.

Lembaran kertas itu berisikan kolom-kolom contoh nama kopi, keharuman, aroma, keasaman, rasa, kekentalan dan rasa setela kopi diteguk. Kolom-kolom itu harus diisi sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Cuppers. Berbarengan dengan pengisian formulir, Cuppers pun harus mengecup satu persatu kopi yang disajikan.

Dalam aktivitas ini, menurut Agustinus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu kopi saat masih kering, setelah diseduh dan saat sudah dingin. “Ada beberapa jenis kopi yang aromanya masih terjaga, rasanya pun masih oke, tapi ada juga yang berubah aroma dan rasanya karena kontaminasi air. Tapi bila sudah dingin, umumnya kopi pun tak lagi dilirik untuk diseruput,” katanya.

Bagi pemula mungkin sedikit kebingungan apa yang harus mereka isi. Apa yang mereka rasakan di lidah mereka hanya pahit dan sedikit asam. Bahkan bisa jadi ada yang hanya akan berpikir semuanya sama, pahit.
“Bahkan penggemar kopi pun belum tentu bisa mengisi dengan cepat,” imbuh Agustinus.

Meskipun itu diisi sesuai dengan yang dirasakan, tapi tidak berarti asal mengisi. Tentu saja ada pengetahuan di balik kolom-kolom itu. Bila kolom-kolom itu terisi dengan lengkap, selanjutnya harus dicocokkan dengan  kunci jawaban. Nah, di penilaian ini kita bisa tahu seberapa besar kepekaan kita dalam menebak karakteristik kopi, alias Cupping.

CARA PEDAGANG KENALI KOPI
Cupping Coffee ini sebenarnya bermula dari kebiasaan para pedagang kopi  yang akan menjual kopinya ke para pembelinya. Dia harus merasakan dulu bagaimana kopi itu, mulai dari aromanya hingga apa yang dirasakan setelah meminum kopi. Hal ini dilakukan untuk menjelaskan kepada pelanggannya bagaimana karakter kopi yang dia jual. Apakah ada kopi yang terbaik? Jawabannya mungkin semua kopi baik dan enak, tapi itu hanya berlaku pada penjual, lantaran selera pembeli pun beragam.

Awalnya para penjual kopi sebelum melepas kopi  ke penjual, mereka harus mencicipi dulu kopinya.  Cupping Coffee sendiri adalah metode bagaimana mengenali berbagai jenis biji kopi yang berbeda-beda. Dengan cupping kita biasa membedakan atau membandingkan kopi satu dengan yang lain dan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kopi tersebut. Kopi itu sendiri mengandung banyak sekali unsur. Mulai dari aromanya, di dalam satu jenis kopi bisa saja mengandung aroma floral, citrus, berry-like, nutty, malt-like, chocolate-like dan lain sebagaianya tergantung lingkungannya.

Di Indonesia, sebutsaja di Bali, kopi Kintamani aroma jeruknya begitu terasa karena perkebunannya di kelilingi oleh jeruk Bali. Berbeda lagi dengan kopi yang hidup di dekat tumbuhan herbal seperti di Toraja atau Papua, kopinya beraroma bunga. Bila kita bandingkan satu kopi dengan kopi yang lain tentu saja berbeda, tidak ada kopi yang sama. “Setiap kopi memiliki komponen-komponen Coffee Tester’s Flavor wheel. Jadi tidak semua kopi memiliki aroma yang sama,” kata Agustinus.

Dalam mendeteksi apa saja atau bagaimana isi kopi tersebut, itu masalah jam terbang seorang Cupper.  Cupping Coffee sendiri hanya ada di daerah penghasil kopi seperti Amerika Latin, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Negara yang kaya akan kopi pasti memiliki komunitas atau penggemar Cupping Coffee. Di Indonesia sendiri komunitas penikmat kopi ini telah muncul sejak 2001 dan kini terus berkembang. Anggotanya pun bukan hanya dari kalangan industri kopi. “Ada yang mahasiswa, karyawan, bahkan ibu rumah tangga juga,” kata Agustinus.
Anda penikmat kopi? Kenali aroma dan asal-usul kopi yang Anda nikmati bersama anggota komunitas ini.



Sumber:
http://www.mataelang.net

1 komentar: