Minggu, 09 September 2012

Warung Kopi di Jember Memang Beda

Jadi ceritanya, saya sedang belajar menulis tentang kuliner, travel dan sejarah gedung-gedung tua. Dan yang menjadi laboratorium tempat saya menjaring ide adalah kota kecil Jember. Alhasil, tiga hari ini saya berkeliling Jember dan berharap  menemukan banyak hal yang bisa saya jadikan bahan untuk belajar menulis.

Sama seperti para pejalan yang lain, saya juga akrab dengan yang namanya warung kopi. Itu adalah tempat yang bersahabat untuk melepaskan penat dan mengembalikan energi yang hilang. Dan tiga hari ini, ada banyak warung yang saya singgahi. Nah, dari sinilah cerita menjadi menarik.

Untuk urusan kopi, Jember memang tidak sehebat kota-kota lain yang memiliki jenis kopi khas dan cara penyajian yang unik. Namun begitu, warung-warung kopi di sini mudah sekali mengadaptasi  semua itu, tergantung permintaan pelanggan. Ya, Jember memang hebat dalam hal adaptasi. Bisa dikatakan, Jember adalah Amerika serikat dalam skala kecil. Tempat bercampurnya segala budaya (terutama dari dua kebudayaan besar, Jawa dan Madura) dan membola salju menjadi sebentuk kebudayaan dengan polesan baru. Maklumlah, Jember memang bukan kota yang berdiri di atas reruntuhan kerajaan besar.

Kembali tentang warung kopi di Jember..
Ada yang unik dengan suasana warung kopi di Jember. Dan saya rasa, ini sulit ditemui di warung kopi di kota-kota lain. Yang saya maksud tidak lain adalah mengenai perpindahan bahasa. Sekali waktu menggunakan bahasa Indonesia, kemudian pindah dengan menggunakan bahasa lokal. Kadang bahasa Jawa kadang bahasa Madura. Dan saat melakukannya, mereka tidak perlu berpikir lebih untuk merangkai kata. Semuanya sudah teranalisis otak kiri dan telah terimajinerkan otak kanan.

Suasana yang akrab dengan gaya komunikasi yang unik, itulah andalan warung kopi di Jember. Keunikan ini pernah saya rasakan ketika sedang ngopi di kantin di dalam kampus Universitas Jember bersama seorang mahasiswa asal Thailand. Kacau, segala bahasa bercampur baur. Anehnya, lha kok nyambung.

Saya memang pernah menulis tentang Jember dan Bahasa Planetnya. Di sana saya ceritakan juga kenapa bahasa orang Jember bisa seunik sekarang ini. Kali ini, saya tuliskan lagi dengan lebih sederhana, mengambil sudut pandang dari suasana di warung kopi.Tentang gaya berkomunikasi masyarakatnya, dan pilihan kata yang khas.

Bila anda sedang nyruput kopi di sini dan sedang beruntung, anda akan mendapatkan suasana obrolan hangat dan menemui kata kata yang bukan Jawa bukan pula Madura.
Contoh kata-kata yang bukan Jawa dan bukan Madura :
Kalau orang jawa menyebut cangkul dengan pacul, maduranya landuk. Kalau di Jember namanya pacol.
Di bahasa jawa, bambu dikenal dengan nama preng, maduranya perreng, dan bahasa Njembernya adalah eppreng.
Orang Madura mengenal ayam dengan kata ajem. Bahasa jawanya pethek (e dibaca seperti membaca reggae). Orang Jember menyebut ayam dengan Pethek (e dibaca seperti membaca pesek).
Di atas adalah kata kata hasil akulturasi budaya. Ada juga kata-kata baru, yang lahir dari asimilasi budaya. Ciri-cirinya, kata mengandung pengulangan dan tersebar juga di daerah pandhalungan (sekitar Jember).
Sebentar lagi BBJ / Bulan Berkunjung Jember akan segera digelar. Bagi anda yang berencana untuk berkunjung kemari, sempatkan juga untuk nongkrong di warung kopi kelas rakyat.  Anda hanya butuh sedikit konsentrasi, pasang telinga, kemudian rasakan sensasinya.

Sumber:
Kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar